“The best school in life is travel”, kata Anita Roddick pemilik The Body Shop yang saya kutip dari Wimar Witoelar dalam Kata Pengantar untuk novel Travelers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona
.
Dan saya setuju. Banyak pelajaran berharga yang saya temukan ketika melakukan perjalanan, entah perjalanan yang diniati untuk berlibur atau perjalanan dinas sembari curi-curi waktu untuk traveling. Itu karena saya lebih suka buying experience daripada shopping di kota tujuan.
Travelers’ Tale yang ditulis keroyokan oleh pasangan suami istri Adhitya Mulya dan Ninit Yunita, bersama 2 penulis muda berbakat lainnya Alaya Setya dan Iman Hidajat ini mengajak saya pada petualangan menarik 4 sekawan menuju Barcelona demi sebuah Wedding Invitation yang dikirim oleh Francis kepada tiga sahabatnya: Retno, Farah, dan Jusuf.
Francis Liem, pianis berbakat yang tinggal di Kansas City ini akan melangsungkan pernikahan dengan Inez Alegria de la Pena gadis Catalonian yang tinggal di Barcelona. Pesta pernikahan kedua pemusik ini sedianya akan dilangsungkan pada tanggal 1 Oktober 2006 di Monestier del Poble Espanol. “One of the most beautiful wedding venue in Barcelona,” tulis Francis dalam email yang dikirim untuk ketiga sahabatnya. “Pokoknya semuanya kalau bisa dateng and you all have to, really-really have to meet her!” tambahnya (hal. 4).
Farah Babedan, tinggal di Hoi An – Vietnam, yang memendam cinta pada Francis sejak SMA bertekat untuk datang ke Barcelona demi menggagalkan pernikahan itu. “I’m not going there to support him. I’m going there to stop him,” ujar Farah pada Jusuf lewat Yahoo!Messenger (hal. 30). Perjalanan seru gadis yang takut terbang dan nekat menuju Barcelona itu pun dimulai dari Vietnam ke Amman kemudian ke Budapest untuk mengurus pekerjaannya, baru dilanjut ke Barcelona untuk mencari jawaban atas cinta yang telah bertahun dipendamnya.
Aksi nekat Farah, membuat Jusuf Hasanuddin, asisten regional marketing manager pada sebuah perusahaan jasa pengiriman surat cabang Cape Town, Afrika Selatan ini bertekad mencegah tindakan gila Farah. Karena Farah adalah gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta. Sejak SMA dulu, sebelum Farah curhat bahwa ia naksir berat Francis, sahabat mereka.
Tapi ada dua hal yang membuat Jusuf harus berpikir ulang untuk menghentikan aksi gila Farah di Barcelona: cuti dan uang. Namun nasib sial yang menimpanya selagi melakukan perjalanan dinas ke Abidjan justru memberinya kesempatan untuk cuti. Pesawat Benin Gulf Air yang ditumpanginya mendarat darurat karena mengalami kerusakan mesin. Untungnya Jusuf selamat dalam grass landing itu dan ia pun meminta cuti selama 2 minggu pada boss-nya di Cape Town. Kemudian ia akan membeli tiket Abidjan – Barcelona – Cape Town, untuk menghentikan niat Farah.
Sementara itu Retno Wulandari, yang tinggal di Kopenhagen, adalah satu-satunya dari sahabat yang mendapat kiriman kartu undangan dari Francis. Tak hanya lewat e-mail seperti yang ditujukan untuk Farah dan Jusuf. Retno memang menempati ruang yang paling istimewa di hati Francis. Bahkan, beberapa hari menjelang pernikahannya, Francis masih berusaha merebut hati Retno, “if you say ‘yes’, I’ll fly to Copenhagen right now…” (hal. 114). Dan Retno pun hanya bisa menekan hasrat yang bergejolak karena perbedaan keyakinan.
Siapakah yang kemudian berhasil memenangkan hati Francis? Inez, Farah, atau Retno? Bagaimana pula nasib si ganteng Jusuf?
Tema cinta segitiga yang terpendam demi persahabatan barangkali sudah cukup banyak diangkat untuk novel. Kalaupun ada sisi yang menarik dari Travelers’ Tale ini adalah kisah perjalanan para tokohnya dari satu negara ke negara lain dengan dana pas-pasan. Backpackers, demikian istilah yang digunakan untuk menyebut para budget-traveler ini.
Travelers’ Tale akan mengajak kita menjelajahi tempat-tempat eksotis seperti Vietnam, Abidjan, Budapest, Cape Town, Nairobi, miami, Casablanca, Madrid, Barcelona, dan banyak lainnya. Menariknya lagi, novel ini juga dilengkapi tips untuk backpacker yang ditulis dalam box khusus, misalnya saja bagaimanan merencanakan perjalanan, tas apa yang cocok untuk business travel, bagaimana mengatasi jetlag, emergency landing, termasuk apa yang harus dilakukan saat tas dan passport kita hilang/dicuri.
Bagi mereka yang suka traveling, novel ini menarik sebagai bacaan ringan. Kalau nggak suka traveling? Hhhhmmmm…nggak ada salahnya mencoba beberapa halaman dulu, kalau enjoy silakan dilanjut. Kalau tidak, mending dikirim ke saya buat nambahin isi rak buku saya. Hehehehhh…
(thanks to Esthi Vietkong di Homerian Book Shop & Library yang sudah meminjamkan novel ini untuk saya review)